Sabtu, 10 September 2016

Dekati masjid kami jika....

*Jangan Dekati Masjid Kami!!*

Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda:
*"Barangsiapa yang mampu dan tidak berkurban maka janganlah ia mendekati masjid kami."*
(HR. Ibnu Majah)^

Saudaraku,
Memang mayoritas ulama menjelaskan bahwa kurban sebuah ibadah sunnah, namun tidakkah hadits diatas menjelaskan betapa tingginya kedudukan berkurban?

Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- melarang setiap orang yang mampu tapi dia tidak berkurban untuk mendekati masjid beliau (baca: masjid Nabawi).

Jika dia ditolak di rumah ALLAH, kemana lagi ia dapat berteduh dari badai kehidupan?

Siapa yang mau menerima dia jika Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- yang penuh kasih dan sayang tidak mau lagi menerimanya?

Seakan ibadahnya di masjid tidak berguna tanpa berkurban.^^

Bagi pencari syafaat Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-,
Bagi pencinta Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam-,
Keluarkan sebagian rizki anda untuk berkurban!

Ini 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, sebuah keberuntungan jika kita dapat berkurban di dalamnya.

Dan bagi anda yang tidak mampu,
anda sangat beruntung, karena anda memiliki Nabi yang sangat penyayang nan perhatian.
Beliau mengikutsertakan anda dalam kurbannya,
sehingga andapun mendapatkan pahala berkurban.

Beliau -shallallahu 'alaihi wa sallam- bersabda saat memotong hewan kurban:
*"Bismillah wallahu akbar, ini dariku dan orang yang tidak mampu berkurban dari umatku."*
(HR. Abu Daud)

Bukankah kita semua umat beliau walaupun kita hadir ke dunia ini setelah 15 abad dari kehidupan beliau? Maka redaksi sabda beliau diatas mencakup seluruh umat islam setelah beliau wafat.^^^

Terakhir,
Teladan kita, *Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- selalu berkurban setiap tahun,* walaupun beliau dan keluarga tidak pernah merasakan rasa kenyang dengan roti gandum selama 2 hari berturut-turut selama berada di kota madinah.^^^^

Bagaimana dengan anda?

                               -----|||-----

^ dihasankan Albani namun sebagian ulama lebih mengarah ke mauquf, seperti Ibnu Hajar.

^^ keterangan Syaukani dalam Nailil Authar 5/171.

^^^ Al Multaqo Syarh Al Muwaththo' 3/113, Durus Syaikh Albani 24/8.
Redaksi umatku dalam hadits di atas adalah salah satu redaksi yang bersifat umum dan universal dalam ilmu usul fiqh.

^^^^ 1. Hadits beliau berkurban setiap tahun diriwayatkan Imam Tirmidzi dan Imam Ahmad.
Imam Tirmidzi menghasankan namun ulama yg lain melemahkan.
Hanya saja banyak ulama yang menyimpulkan bahwa Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- berkurban setiap tahun.
2. Hadits 'Aisyah tentang laparnya beliau diriwayatkan Imam Bukhari dan Imam Muslim.

✏ Al-Ustâdz Muhammad Nuzul Dzikri
🌐 Telegram Channel : @muhammadnuzuldzikri

Share, yuk! Semoga saudara² kita mendapatkan faidah ilmu dari yang anda bagikan dan menjadi pembuka amal² kebaikan bagi anda yang telah menunjukkan kebaikan. آمِينَ.

Sabtu, 27 Agustus 2016

Siklus logika antara Tuhan, Orang Tua dan anak

*```Untuk Renungan segenap orang tua```*

*Refleksi kajianLuar Biasa*

dari Mas Agus Purwanto, DSc```.
(dosen fisika ITS penulis buku Ayatt Semesta dan Nalar Ayatt Semesta,...Penggagas Trensains→ Sragen, →Jombang--Tebu Ireng-- dan →Yogja sekaligus pemilik Hak Cipta-nya)

Bagi para orang tua maupun dosen/guru yang untuk sementara waktu berprofesi sebagai pengganti orang tua di rumah. Selamat menghayati dan mengamalkan 👇 tulisan berikut ini

*Urutan logika...siklus nakalnya anak dengan tidak bijaknya orang tua itu begini*:

*Karena anaknya nakal...maka orang tuanya murka.*

*Karena orang tuanya murka.. maka Allah juga murka.*

*Karena Allah murka...maka tidak turun rahmat di rumah itu.*

*Karena tidak turun rahmat di rumah itu...maka keluarga itu akan banyak masalah.*

*Karena keluarga itu banyak masalah...maka anaknya...tidak merasakan kebahagiaan dan tidak nyaman...sehingga akan makin nakal.*

*Prinsip inti siklusnya* sebenarnya masih pada orang tua...yakni: 👇

*Ridla Allah...berada pada ridlanya orang tua.*

*Murka Allah...berada pada murkanya orang tua.*

Maka *strategi* paling *efisien* untuk memutus rangkaian siklus itu...Insya Allah ada *pada bagian awal*...yakni *mencegah orang tua murka*... *Bila orang tua segera menghadapi anaknya...dengan kasih sayang dan tidak dengan kemurkaan* ...maka *orang tua itu...menunjukkan kepada Allah...bahwa mereka berdua ridla kepada anaknya...Tentu bukan ridla terhadap kenakalannya.. melainkan ridla kepada diri anaknya.*

Dengan memastikan ridla kepada anak..maka orang tua akan dapat melakukan 3 tahap ini:

*1. Segera memaafkan anaknya...tidak memarahinya sama sekali...dan segera berusaha memahami situasi apa yang sedang dihadapi anaknya.*

*2. Segera menemui...berdialog dan turut mendiskusikan...solusi terbaik apa yang harus diambil oleh anak...orang tua atau pihak lainnya...sambil terus mendoakannya.*

*3. Segera melupakan segala kesalahan anaknya tadi...dan tidak mengungkit-ungkitnya kembali.*

وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

*"Bila kalian memaafkannya...menemuinya dan melupakan kesalahannya...maka ketahuilah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.* (QS 64:14).

Dengan *konversi murka* menjadi *ridla*...maka sekarang siklusnya jadi begini 👉 *Suatu hari anak itu nakal...Orang tuanya...segera melakukan 3 tahap itu...dengan penuh kasih sayang...sebagai wujud keridlaan mereka kepada anaknya.*

*Karena orang tua anak itu ridla...maka Allah meridlainya.*

*Karena Allah meridlainya...maka rumah yang penuh ridla itu...dirahmati Allah.*

*Karena rumah itu penuh rahmat Allah...maka keluarga itu penuh kasih sayang...sehingga jadi makin bahagia.*

*Karena keluarga itu bahagia...maka anak tidak akan sempat lagi nakal...sebab setiap masalah hidupnya selalu segera mendapat solusi.*

*Jadi...pada setiap kenakalan anak (mohon maaf)...lokasi perbaikannya...sesungguhnya bukan pada anak...melainkan pada orang tuanya si anak...*

 Semoga bermanfaat...

Kamis, 25 Agustus 2016

Kisah inspirasi : Belajar dari sopir Taxi

Renungan akhir pekan

*Note* :  Ini adalah pengalaman nyata yang dikisahkan oleh salah seorang motivator Indonesia.

Hari itu, saya menggunakan jasa taxi, Begitu saya naik taxi sang driver menyapa dengan kata-kata yang lembut dan bahasa tubuh yang mengesankan.

Semakin saya ajak ngobrol, saya semakin “jatuh cinta” dengan driver itu.

Dalam hati saya bergumam,
“Pasti ada sesuatu di dalam diri driver ini sehingga pribadinya begitu mempesona.

Saya ingin banyak belajar dengan driver ini.”

Agar punya kesempatan yang lebih luas untuk ngobrol, driver ini saya ajak makan siang di salah satu restoran kesukaan saya di Bogor. Awalnya dia menolak, tetapi setelah saya “paksa” akhirnya ia bersedia menemani saya.

Ketika saya tanya mau pesan apa, dia menjawab,
“Terserah bapak.”

Driver itu saya pesankan menu sama persis dengan pesanan saya :
Sate kambing tanpa lemak dan sop kambing, masing-masing satu mangkok.

Sebelum makan saya bertanya,
“Tinggal dimana ?”

Dia menjawab,
“Balaraja Tangerang.”

“Berapa jam perjalanan ke pool ?” sambung saya.

Diapun menjawab, “Empat jam.”

Saya terkejut,
“Hah! Empat jam ?
Pergi pulang delapan jam.
Kenapa gak nginep saja di pool ?”

Dia segera menjawab,
“Saya harus menjaga ibu saya.”

“Menjaga ibu ?” batinku. Bagaimana mungkin menjaga ibu, sampai rumah jam 23.30 berangkat kerja jam 03.30 dini hari ?

Untuk mengurangi rasa penasaran, kemudian saya bertanya lagi,

“Bukannya sampai rumah ibu sudah tidur, berangkat ibu belum bangun ?”

Dengan agak terbata dia menjawab,
“Setiap saya berangkat ibu sudah bangun.
Saya hanya ingin mencium tangan ibu setiap pagi sebelum berangkat kerja, sambil berdoa semoga saya bisa membahagiakan ibu.”

Jawaban itu menusuk sanubariku, hanya sekedar mencium tangan ibu dan mendoakannya ia rela menempuh perjalanan delapan jam setiap hari.

Sayapun ke belakang sejenak menghapus air mata yang mengalir di pipi.

Kemudian saya bertanya lagi,
“Apa yang kamu lakukan untuk membahagiakan ibu ?”

Lanjut ke bagian 2.
Dengan lembut ia menjawab,
“Saya sudah daftarkan umroh di kantor.”

“Maksudnya ?” seru saya.

Ia menjawab,
“Kalau saya berprestasi dan tidak pernah mangkir kerja, saya berpeluang mendapat hadiah umroh dari kantor.

Bila saya menang, hadiah umroh itu akan saya berikan kepada ibu tercinta.”

Mendengar jawaban itu saya menarik napas panjang.
Dengan nada agak bergetar ia melanjutkan,

*Setiap hari saya pulang agar bisa mencium tangan ibu dan mendoakannya agar ia bisa pergi umroh*.
*_Saya benar-benar ingin membahagiakan ibu saya_*

Mendengar jawaban itu, haru dan malu bercampur menjadi satu.
Air matapun mengalir deras di pipiku.

Malu karena pengorbananku untuk ibuku kalah jauh dengan driver taxi ini.

Bila selama ini saya yang membuat peserta training berkaca-kaca. Hari ini Asep Setiawan, driver taxi itu, yang membuatku menangis tersedu. Dia telah menjadi trainer dalam kehidupanku.

Ya, Asep Setiawan telah menjadi trainerku… bukan melalui kata-katanya tetapi melalui tindakannya.

*Tulisan Jamil Azzaini*


Semoga ada keberkahan dan keridhaan dari Ibu kita tercinta. Atas segala kebaikannya selama ini

Bagi yg Bunda nya telah kembali menghadap Sang Kholik.
Mari berhenti sejenak dan luangkan utk memanjat kan doa untuk nya saat ini atau saat beribadah nanti.

*IBU ADALAH MALAIKAT YANG TERLIHAT*.
.

Kisah Inspiratif : MUSAFIR yang CERDAS

Musafir Yang Cerdas


Suatu Hari Seorang musafir lewat di suatu kampung. Ia melihat penduduk kampung sdg berkumpul ramai sekali.
Mereka sepertinya sdg mengadakan musyawarah besar.

Setelah mencari tahu, ternyata penduduk kampung itu sdg membicarakan siapa yg Bersedia mau menjadi ketua kampung.

Ia menjadi heran, kenapa orang-orang ini justru mencari siapa yg mau menjadi pemimpin, karena menurut kebiasaan , orang malah rebutan untuk jadi pemimpin.

Rupanya ada suatu tradisi aneh di kampung itu. Setiap seorang pemimpin yg telah selesai menjalankan tugas , ia akan dibuang ke suatu tempat yg sangat berbahaya.

Di padang pasir yg dipenuhi binatang buas dan berbisa.
Setiap orang yg masuk ke sana mustahil bisa keluar lagi dgn selamat.

Setelah berfikir sejenak , ia menawarkan diri untuk jadi pemimpin di kampung itu.

Tentu saja penduduk kampung menjadi heran sekaligus senang. Dengan penuh yakin ia menanda tangani perjanjian untuk menjadi pemimpin dan siap dibuang setelah 10 thn menjalankan tugas.

Namun musafir ini ternyata seorang yg sangat cerdas.
Pantas sekali ia berani menawarkan diri jadi pemimpin negeri itu.

🌿Di tahun pertama dan kedua ia mengumpulkan dana yg sangat besar.

🌿Pada tahun ketiga ia menugaskan orang untuk membuat jalan ke padang pasir tempat yg akan dijadikan tempat pembuangannya.

🌿Tahun keempat ia membersihkan tempat itu dari binatang buas dan berbisa.

🌿Tahun kelima ia memerintahkan orang untuk mengalirkan air dan menanaminya dgn berbagai macam tumbuh-tumbuhan.

🌿Tahun keenam sampai kedelapan ia menyulap daerah itu menjadi kota yg sangat megah dan membuat istana yg indah untuk tempat ia ketika dibuang nanti.

🌿Akhirnya pada tahun kesembilan ia justru merindukan jabatannya segera berakhir , karena ia tidak sabaran lagi untuk menempati rumah masa depannya.


Itulah Gambaran Dunia dan Akhirat bagi orang yang sadar.


Ada orang yang merasa cemas akan kematian karena ia membiarkan rumah masa depannya dipenuhi binatang buas dan berbisa. Rumahnya hancur berantakan, bahkan dipenuhi api.

Tapi bila kita persiapkan dgn segala amal shaleh , justru akan membuat kerinduan untuk segera menuju ke sana.

Ia malah merasa asing dan tidak betah di dunia yg fana ini , karena berharap segera menempati kampung nan indah di seberang sana.

Orang yg cerdas adalah yg mempersiapkan diri untuk kehidupan akherat yg tiada berakhir.

Dan orang yg teramat bodoh adalah orang yg mengorbankan kehidupan yg abadi demi kesenangan di dunia yg hanya sekejap.


☘ Jadilah orang yg cerdas ... !!!
Manfaatkan sisa hidup  ini untuk menyiapkan sesuatu yg lebih baik buat di sana...🌺


Smg kita bisa menjadi musafir yg cerdas ,

Aamiiin Allohumma yaa Robbal aalamiiin...

KISAH INSPIRATIF :Pemuda dan Pekerjaannya

Sangant di sarankan  anak-anak Anda ikut membaca
Seorang pemuda melamar lowongan posisi manajer di sebuah Perusahaan besar. Dia lulus wawancara awal.
Sekarang akan bertemu dengan seorang direktur untuk wawancara akhir. Dari CV-nya, sang direktur mengetahui bahwa prestasi akademis pemuda itu sangat baik. Dia (Direktur) bertanya,
"Apakah Anda mendapat beasiswa di sekolah ...?"
Pemuda itu menjawab, "Tidak Pak".
"Siapa yang membayar biaya sekolah ...?"
"Orangtua saya," jawabnya.
"Di mana mereka bekerja ......?"
"Mereka dari dulu sampai saat ini bekerja sebagai tukang cuci pakaian."
Direktur meminta pemuda itu untuk menunjukkan tangannya. Pemuda itu menurut dengan  menunjukkan kedua tangannya yang halus dan sempurna.
"Pernahkah Anda membantu orangtua Anda mencuci pakaian?"
"Tidak pernah pak. Orangtua saya selalu ingin saya belajar dan membaca buku lebih banyak. Selain itu, orangtua saya bisa mencuci pakaian lebih cepat dari saya."
Direktur kembali mengatakan,
"Saya punya permintaan. Ketika Anda pulang hari ini, pergi dan bersihkan tangan orangtua Anda. Temui saya besok pagi."
Pemuda itu merasa sedih dan bingung dengan permintaan sang direktur tadi. Ketika ia kembali ke rumah, ia meminta orangtuanya membiarkan dia membersihkan tangan mereka. Orangtuanya merasa aneh. Senang namun terharu, semua perasaan yang bercampur aduk. Mereka menunjukkan tangan mereka kepada sang anak.
Pemuda itu membersihkan tangan mereka perlahan-lahan. Tanpa terasa Air matanya meleleh perlahan saat ia melakukan itu. Ini adalah pertama kalinya ia melihat tangan kedua orangtuanya yang begitu kusut, dan begitu banyak lecet di tangan mereka. Bahkan beberapa luka lecet itu membuat mereka mengeluh sakit saat ia menyentuhnya. Dan ini adalah pertama kalinya pemuda itu menyadari bahwa sepasang tangan yang mencuci pakaian setiap hari inilah yang memungkinkan dia untuk membayar biaya sekolah. Lecet-lecet di tangan adalah harga yang harus dibayar orang tuanya untuk pendidikan, kegiatan sekolah dan masa depannya.

Setelah membersihkan tangan orangtuanya, pemuda ìtu diam-diam mencuci semua pakaian yang masih tersisa. Malam itu, orangtua dan anak berbincang untuk waktu yang sangat lama dengan keanehan yang terjadi pada anaknya yang selama ini memang hampir tidak pernah melakukan hal itu.
Keesokan paginya, pemuda itu pergi ke kantor direktur. Direktur melihat air mata di mata pemuda itu, ketika ia bertanya :
" Apa yang telah Anda lakukan di rumah Anda kemarin ....?"
Pemuda itu menjawab,
"Saya membersihkan tangan orangtua saya, juga mencuci semua pakaian yang tersisa sampai selesai."
" Pelajaran apa yg Anda peroleh..? "
"Saya sekarang tahu apa artinya cinta dan pengorbanan orang tua saya.
Tanpa orangtua saya, saya tidak akan menjadi diri saya hari ini. Dengan membantu orangtua saya, maka saya baru menyadari betapa sulit mencapai tujuan kalau dilakukan sendiri. Saya menghargai pentingnya saling membantu dalam keluarga."
Direktur akhirnya mengatakan :
"Inilah yang saya cari pada diri seorang manajer. Saya ingin merekrut orang yang dapat menghargai bantuan orang lain.
Orang yang tahu penderitaan orang lain untuk menyelesaikan sesuatu. Orang yang tidak menempatkan uang sebagai satu-satunya tujuan hidup."
"Anda diterima kerja."
Wahai para orang tua. Seorang anak, yang terlalu dilindungi, dimanjakan apa pun yang ia mau, akan mengembangkan "mentalitas hak" dan akan selalu mengutamakan dirinya sendiri. Dia akan mengabaikan upaya kedua orang tuanya.
Jika kita menjadi orangtua yang terlalu melindungi, bukan berati mencintai anak-anak dengan cara yg benar. Bukankah justru akan menghancurkan mereka.
Boleh membiarkan anak tinggal di sebuah rumah besar, makan makanan yang baik, belajar piano, menonton TV layar lebar.
Tapi ketika Anda membersihkan rumah,
ajak mereka juga melakukannya. Setelah makan, biarkan anak2 mencuci piring dan mangkuk sendiri.
Bukan karena tidak punya uang untuk menyewa pembantu, tetapi karena ingin mencintai anak2 dengan cara yang benar. Agar mereka mengerti, kendati orangtua mampu. Suatu hari kita akan menjadi tua dan tak berdaya. Betapa bahagia mempunyai anak yang mengerti.
Didik dan bimbinglah anak Anda agar belajar bagaimana menghargai jerih payah orang tua, juga orang orang lain dalam mencapai tujuan.
Semoga bermanfaat.